Tentang Pelaku Seni: Nasirun

Besar di ranah tradisi pesisiran. Ayahnya, Sanrustam (alm), dan ibunya, Supiyah, hanyalah buruh tani. Kekerasan hidup itulah yang sering kali membuat Nasirun nekat. Tahun 1983 ia berangkat ke Yogyakarta setelah menjual daun pintu rumahnya. "Untuk menahan angin saya pasangi karung bekas gabah di kusennya yang bolong," tutur Nasirun.

Sampai di Yogyakarta tepat saat gerhana Matahari tahun 1983. Bukan lantaran peristiwa itulah yang membuat Nasirun berulang kali menyapukan gerhana di atas kanvasnya. Gerhana bagi Nasirun semacam perlambang hidup yang senantiasa berjalan pada dua sisi, gelap dan terang.

Rumah perupa Nasirun di kawasan Kalibayem, Bantul, Yogyakarta, terbilang besar. Banyak pohon dan nyaman. Jangan kaget kalau tiba-tiba di bawah pohon pandan di halaman samping kanan tergeletak lukisan dalam ukuran besar. Tak jauh dari situ, di atas aliran sungai yang diberi semacam geladak, bersandar pula lukisan lain. Di halaman samping, terdapat studio. Pada rak di atasnya, tertata ribuan kanvas kosong. Bagian luar dari kediaman dan studio perupa kelahiran Cilacap ini saja sudah mengisyaratkan kerumitan pada ruang dalamnya. Di ruangan yang biasanya Nasirun berbincang dengan para tamunya, lukisan pun bertumpuk-tumpuk, tak terkecuali banyak lukisan setengah jadi.

Saking banyak karya lukisnya, Nasirun sampai harus memakai kamar putri pertamanya, Ima Bunga Insan Sani, hanya untuk menyimpan lukisan. Nasirun memang dikenal sebagai perupa produktif. Bahkan, pada tahun 1997 ketika bom seni rupa berlanjut setelah sebelumnya dimulai awal tahun 1990-an, ia dicap sebagai pelukis pelayan pasar. Soal itu, Nasirun hanya berujar singkat, “Apa dosa saya pada kebudayaan? Soal sebenarnya bukan sekadar memanfaatkan momentum penerimaan pasar terhadap seni rupa kontemporer Indonesia, tetapi lebih pada mencari wahana atas gelegak energi kreatif yang meledak-ledak.”

Suami dari Illah ini tak bisa berhenti melukis. Hebatnya, sebagaimana pula diakui oleh kolektor Oei Hong Djien, meski secara ide terkadang sama, Nasirun selalu berhasil mencari bentuk-bentuk yang tak mirip. Bahkan, berbeda sama sekali. Ketidaksamaan itu barangkali karena Nasirun membentang wilayah kreatif yang demikian luas. Ia nyaris selalu berangkat dari tradisi dan mitologi yang ditarik ke wilayah kontemporer. Pada saat tarikan itulah Nasirun melakukan interpretasi. Begitu terus sampai ia merasa bertemu pada kedalaman nilai.

Keintimannya pada alam memberi energi Nasirun untuk bekerja. Ia seperti menyadap getah mitologi yang kemudian diolahnya menjadi kekayaan lokal, tetapi bernilai universal. Lukisan Nasirun hampir selalu berangkat dari masa lalu, saat-saat ia menjalani kerasnya hidup di kampung. Masa lalu itu kemudian diinterpretasi untuk menemukan nilai universal di dalamnya.

Tahun 1997 lukisan Nasirun begitu banyak diburu kolektor dan para spekulan. Ia menuturkan, “Semua orang antre, kanvas kosong saja sudah diberi nama pemesannya.” Nasirun paham, ia sedang berada di puncak pasar. “Pokoknya prinsip saya dari dulu, jangan mendahului kersaning Gusti. Saya tak mau mendahului kehendak Tuhan,” tutur penggemar tanaman hias ini. Selain itu, Nasirun mengaku selalu bekerja atas dasar kegembiraan.

Ia merayakan masa lalu dalam kanvas-kanvasnya yang naratif. “Semuanya saya jadikan energi untuk bekerja,” tutur dia. Secara intuitif, tanpa harus menyakiti hati para pemburunya, ia beralih ke kanvas-kanvas besar. “Itu salah satu cara saya untuk mengerem pasar, ritme kerja menjadi lebih lambat untuk menghindar dikte pasar,” katanya. Benar saja sejak itu lukisan-lukisan Nasirun selalu dalam ukuran besar. Belakangan Nasirun malah jarang menyelesaikan satu lukisan yang peminatnya lebih dari satu orang. Ia biarkan saja lukisan setengah jadi itu teronggok begitu saja. “Saya tak tahu kapan jadinya. Pokoknya tugas saya cuma bekerja,” ucapnya. Barangkali sikap ini yang menyelamatkannya dari kemungkinan dilindas keganasan pasar.

Sikap memberi sekat antara ruang materi dan kreativitas ini sebenarnya cara Nasirun untuk menjaga agar ia tetap berada pada wilayah penciptaan. Bahwa di sisi lain ada riuh rendah pasar, memang tak bisa dimungkiri. Namun, dengan pemilahan yang tegas, ia tetap tampil sebagai kreator yang bebas intervensi.

Kalau Nasirun sejak dulu hingga kini melukis seperti kesetanan pastilah bukan karena mengejar kepuasan materi. Itu semata-mata karena ia harus menciptakan kanal bagi gelegak energi penciptaan yang seperti menggumpal-gumpal di dalam dada dan kepalanya. Sampai kini Nasirun tak berusaha belajar mengemudikan mobil, ke mana-mana ia masih menggunakan motor butut yang ia beli dari hasil penjualan lukisannya pertama kali tahun 1993.

Tahun 2012, ia mendirikan museum yang didedikasikan bagi para seniman senior yang terlupakan, bahkan terpinggirkan, seperti karya Soenarto Pr dari Kelompok Sanggar Bambu, Affandi, Hendra Gunawan, Hariyadi, Ratmoyo, Kartono Yudhokusumo, Rustamadji dan Wardoyo. Sebanyak 500 lukisan tersimpan disana. Ia mengoleksi lukisan-lukisan tersebut sejak 1994, sewaktu masih dikenal sebagai pelukis yunior dan belum dikenal orang. Ia menyebut museum yang berlokasi di Perumahan Banyeman, Jalan Wates, Yogyakarta, itu sebagai museum Zakat budaya.


Logo foot 0e2275ffe57cd7876aa896531959717ee2585cfc7989b3924f06aa8636f47f38

Supported by:

GALERI NASIONAL INDONESIA

Jl. Medan Merdeka Timur no.14
Jakarta 10110
P: 021-348 33 954
F: 021-381 3021
Fb cda1200db9deaa1dd028f54c818d6f86dd15120a53a7fedeedcbd4fb5f885c4b Twitt 29cef47e6488eb7995d855a47ef74bffbed4732acbbd77d5c8d970ca82214ffc Gplus f5bd9896e626696f9ac7f2c8c9434d4461dbc2fcba73c58dbd41b0cbeec4441a
Header color 8ae5ee5e6e5e961c2bebefd751219e5ad6b474423f1278bc6fa41a658a67cddd