Tentang Pelaku Seni: Amrus Natalsya

 

Di akhir tahun 90-an, dia pernah menggemparkan dunia seni rupa Indonesia dengan karya fenomenalnya yang berjudul “Pecinan”, dalam bentuk cukil kayu, yang menjadi ciri khasnya. Lahir di Medan, 21 Oktober 1933, Putera dari pasangan Rustam Syah Alam dan Aminah, ini sejak kecil, sudah menunjukkan bakat seninya. Agaknya dia mewarisi bakat seni dari kakeknya.

Menyelesaikan pendidikan SD sampai SMA di Medan. Setamat SLTA, dia merantau ke Yogyakarta dan mendaftar ke jurusan seni lukis Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Namun, jurusan tersebut sudah penuh, ia diterima di bagian reklame.  Persahabatannya dengan Michael Wowor mendorongnya ikut memahat kayu, yang akhirnya dia tekuni. Sejak karya patungnya berjudul Orang Buta yang Terlupakan dipamerkan, namanya sebagai pematung mulai dikenal banyak orang. Pada tahun 50-an, karya-karya patungnya mulai dipamerkan di luar negeri.

Tahun 1961, bersama teman-temannya dari ASRI, seperti Isa Hasanda, Misbah Thamrin dan Djoko Pekik, mendirikan Sanggar Bumi Tarung, yang bernaung di bawah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) di Yogyakarta. Kiprahnya di sanggar ini membuatnya berurusan dengan politik. Patung-patung karyanya dibakar saat pergantian pemerintah berlangsung. Tahun 1968, Dia pun ditangkap dan dipenjara. 

Setelah bebas dari penjara, tahun 1971, Amrus kembali menekuni seni mematung. Tapi sangat sulit mendapatkan sponsor untuk memamerkan karyanya, hal itu tidak membuatnya untuk berhenti berkarya. Dalam posisi dan kondisi sangat sulit, dia berhasil mengisi salah satu kios di Pasar Seni Ancol, Jakarta.

Ketika Taman Impian Jaya Ancol diperluas, terdapat banyak kayu tebangan. Dia pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Secara kreatif dia membuat lukisan kayu. Karyanya mendapat apresiasi tinggi, dan laku di pasaran. Amrus semakin bergairah melahirkan karya-karya seni patung yang membuat namanya pantas diabadikan sebagai maestro pematung Indonesia. Dalam mematung, karyanya tampak membumi, baik dalam memilih bahan baku kayu, mengolah bentuk, membentuk sapuan warna maupun menuangkan sifat dan karakter keseniannya.


Logo foot 0e2275ffe57cd7876aa896531959717ee2585cfc7989b3924f06aa8636f47f38

Supported by:

GALERI NASIONAL INDONESIA

Jl. Medan Merdeka Timur no.14
Jakarta 10110
P: 021-348 33 954
F: 021-381 3021
Fb cda1200db9deaa1dd028f54c818d6f86dd15120a53a7fedeedcbd4fb5f885c4b Twitt 29cef47e6488eb7995d855a47ef74bffbed4732acbbd77d5c8d970ca82214ffc Gplus f5bd9896e626696f9ac7f2c8c9434d4461dbc2fcba73c58dbd41b0cbeec4441a
Header color 8ae5ee5e6e5e961c2bebefd751219e5ad6b474423f1278bc6fa41a658a67cddd