Event: Patung Kriya & Keramik

04 Januari 1993 - 04 Januari 1993
Galeri Nasional Indonesia

SENI PATUNG DAN SENI KRIYA DEWASA INI

SEBUAH PENGANTAR

Dipandang dari perkembangan seni rupa di Indonesia, seni patung dan seni kriya di masa lalu mempunyai mutu seni yang klasik. Seni patung adalah bahasa bentuk tiga dimensional, dapat dilihat, diraba, utuh, konkrit dan tidak ada satu sudutpun yang tidak dapat disentuh oleh pandangan mata penikmatnya. Kedalaman rasa seni patung terletak pada visualitas yang dipancarkan oleh patung itu sendiri. Seni kriya adalah bahasa kerajinan yang mempunyai kedalaman fungsi dan arti dalam bentuk perabotan, peralatan rumah tangga, hiasan, perhiasan dengan ujud bendadua dimensional atau tiga dimensional.

Sejarah seni patung di masa lali memang mengalami pasang-surut. Pada masa pra-sejarah sifat seni patung yang monolith, magis, penuh arti simbolis. Sedangkan pada masa Hindu-Budha di Jawa Tengah, dan Bali patungnya bergaya lemah gemulai, luwes dan klasik. Di Jawa Timur gaya patungnya statis, kaku, meskipun diciptakannya patung itu masih dalam kurun waktu zaman Hindu-Budha. Pada waktu Kebudayaan Islam masuk ke Indonesia, seni patung mengalami kemunduran. Setelah Indonesia mengalami kemerdekaan seni patung mulai tumbuh dan berkembang kembali.

Perguruan tinggi seni yang mempunyai pendidikan seni patung seperti: ITB, FSRD ISI Yogyakarta, IKJ, UNS Surakarta memberikan andil yang besar terhadap kelahiran seni patung Indonesia modern. Kecenderungan gaya seni patung modern Indonesia dewasa ini adalah abstrak yang berorientasi ciptaannya pada penyederhanaan bentuk-bentuk geometrik dan bentik yang murni dari ide kreatif penciptanya. Lahirnya seni patung abstrak Indonesia dewasa ini memang tidak dapat lepas dari proses belajar-mengajar pada pendidikan tinggi seni, dimana mahasiswa dilatih untuk mengahayati kualitas bentuk yang murni atau geometrik. Kecenderungan lain dalam pertumbuhan seni patung modern adalah adanya corak gabungan antara modern dan tradisional. Dan juga patung-patung untuk monumen yang terkait dengan arsitektur adalah bukti nyata bahwa patung di zaman kemerdekaan dapat berkembang dengan bahan olahannya adalah batu, kayu, logam, perunggu, bahan plasti/resin. Perkembangan seni patung dewasa ini terus didorong, baik pemerintah atau swasta agar kehadirannya dapat disejajarkan seni patung modern dunia.

Seperti halnya patung, maka seni kriya bila ditinjau dari sejarah seni kriya mempunyai usia yang tua. Dari zaman pra-sejarah, zaman Hindu-Budha, zaman Islam/Madya seni kriya hadir dengan segala corak dan ragamnya dengan media batu, emas, perak, bambu, logam ,textiel, tanah liat/tembikar, kulit dan lain-lain, bahan yang jumlahnya banyak sekali.

Perkembangan seni kriya dewasa ini secara kuantitas sangat menggembirakan, kriya dapat tumbuh dimana-mana di Republik Indonesia. Sentra-sentra kerajinan dibina oleh pemerintah, pusat-pusat produk kriya yang saat ini handal yaitu ukir kayu di Jepara, Bali, Irian Jaya (Asmat) Seni tenun di NTT, NTB. Anyaman di Tasikmalaya, Batik di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Perak di Yogyakarta dan Kendari Sulawesi. Secara kuantitas jumlah prodduk yang ada di pusat-pusat kerajinan mampu mencukupi kebutuhan konsumen dalam negeri, bahkan sekarang dipacu, agar produk kerajinan dapad di-export ke manca negara.

Banyaknya sumber daya manusia yang hidup dengan profesi sebagai perajin, jumlahnya mencapai lima juta perajin serta masuknya teknologi untuk membantu percepatan proses produksi, maka secara kuantitatif kebutuhan akan barang-barang kerajinan dapat dipenuhi. Pembahharuan bentuk secara motif hias dalam produk kriya juga mengalami perubahan. Adanya perubahan fungsi di dalam memanfaatkan hasil-hasil kriya oleh masyarakat cukup menggembirakan dan hasil ini akan memacu perkembangan kriya secara maju akan nampak hasilnya.

Perkembangan seni kriya secara kualitatif sangat memprihatinkan. Hal ini disebabkan makin langkanya kriyawan yang setara dengan empu. Produk kriya yang khas dan unik yang menggambarkan pribadi kriyawannya betul-betul sudah langka sekali. Adanya jurusan kriya di FSRD ISI Yogyakarta hendaklah mampu mencetak kriyawan yang mempunyai wawasan yang luas dan mempunyai keahlian yang patut dibanggakan baik dalam arti pembaharuan motif-motif atau teknik pengerjaan dan finishing. Pada tahun 1970 STSRI ASRI memamerkan seni kriya di Seni Sono Yogyakarta dan mendapat tanggapan baik dari seni rupawan Yogyakarta atau oleh para kritikus seni. Pembaharuan itu nampak dilakukan oleh para kriyawan yang akademis, dengan jalan mengembangkan motif seni hias yang sudah ada dari seluruh Indonesia ataupun mencari deformasi baru dalam mengubah motif baik yang bersumber dari alam ataupun ide murni dari dirinya sendiri.

Gubahan bentuk motif yang sederhana dan bentuk geometrik yang kreatif mewarnai perkembangan seni kriya dewasa ini. Gubahan kriya baru yang berbentuk panil-panil hias merupakan gejala yang ada sekarang ini, apakah usaha yang maksimal dari para kriyawan yang kreatif ataukah jalan pintas untuk mengatasi waktu yang lama bila membuat produk tiga dimensi.

Ada tidaknya perkembangan seni kriya baru, sepenuhnya menjadi tanggung jawab para kriyawan untuk mengatasinya.

 

Yogyakarta, 22 Desember 1992

Narno S.


Logo foot 0e2275ffe57cd7876aa896531959717ee2585cfc7989b3924f06aa8636f47f38

Supported by:

GALERI NASIONAL INDONESIA

Jl. Medan Merdeka Timur no.14
Jakarta 10110
P: 021-348 33 954
F: 021-381 3021
Fb cda1200db9deaa1dd028f54c818d6f86dd15120a53a7fedeedcbd4fb5f885c4b Twitt 29cef47e6488eb7995d855a47ef74bffbed4732acbbd77d5c8d970ca82214ffc Gplus f5bd9896e626696f9ac7f2c8c9434d4461dbc2fcba73c58dbd41b0cbeec4441a
Header color 8ae5ee5e6e5e961c2bebefd751219e5ad6b474423f1278bc6fa41a658a67cddd