Event: Ekspansi

14 Juli 2011 - 24 Juli 2011
Galeri Nasional Indonesia

Kurator 
Asikin Hasan | Asmudjo Jono Irianto | Jim Supangkat

Pembukaan
GALERI NASIONAL INDONESIA
Kamis, 14 Juli 2011 pukul 19.30 WIB

Pembukaan pameran ini akan diresmikan oleh
Bapak Drs. Ukus Kuswara, MM
Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film 
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata 

Acara hiburan pada pembukaan oleh
Grup “Freenote Music”
Harpa: Donna Angelina | Vokalis: Cindy Tannos | Biola: Icha DN |Perkusi: Revie Pongoh

***

Konferensi pers:

GALERI NASIONAL INDONESIA
Pukul 17.00 – 18.30 WIB

Konfirmasi kehadiran redaksi/wartawan media massa dapat melalui email ini atau ke alamat: patungkontemporer@yahoo.com / galnas@indosat.net.id 
Telepon melalui SIGIarts 021-7260949 / Galnas 021-34833954

***

Pameran
15 - 24 Juli 2011 Pukul 10:00 – 19:00 WIB
Gedung Pameran Temporer A, B, C
GALERI NASIONAL INDONESIA
Jl. Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta Pusat

Peserta Pameran 
Abdi Setiawan | Adi Gunawan | Aditya Novali | Agapetus A. Kristiandana | Agung Kurniawan | Agus Suwage | Ahmad Syahbandi | Ali Umar | Andre Tanama | Arya Pandjalu | Adityo BP | Albert Yonathan | Ali Rubin | Altje Ully | Amalia Kartika Sari | Amrizal Salayan | Arief Tousiga | Ay Tjoe Christine | Andita Purnama | Andra Martin | Astari | Awan Simatupang | Agoes Kama Loedin | Agung Tato Suryanto | Ashley Bickerton | Budi Swiss | Bunga Jeruk | Bernauli Pulungan | Budi Pradono | Bagus Pandega | Baihaqi Hasan | Benny Messa | Carola Vooges | Dicky Tjandra | Didi Kasi | Dikdik Nurhadi | Dolorosa Sinaga | Donna Angelina | Deden Sambas | Dita Gambiro | Eddi Prabandono | Edi Priyanto | Eko Nugroho | Entang Wiharso | Erwin Windu Pranata | Faisal Habibi | Garin Nugroho | Gus Barlian | Handiwirman | Hedi | Heri Dono | Hanafi | Hanung Mahadi | Hardiman Radjab | Handy Hermansyah | I Made Widya Diputra | Ichwan Noor | Ivan Sagita | Ibnu Nurwanto | Iriantine Karnaya | I Wayan Upadana | Jompet (Kuswidinanto) | Joko Avianto | Jay Subiakto | Kelompok Hitam Manis | Komroden Haro | Ketut Winata | Ketut Moniarta | Laksmi Shitaresmi | Leonardiansyah Allenda | Leonard Theosubrata | M Irfan | Maria Indria Sari | Mella Jaarsma | cikcuk (Manuel Heischel) | Nasirun | Ninus Anusapati | Nyoman Nuarta | Nadya Savitri | Nurdian Ichsan | Nus Salomo | Noor Ibrahim | Ostheo Andre | Obin (Joseph Komara) | Octora | Prilla Tania | Putu Sutawijaya | Putriani Mulyadi | Pintor Sirait | Pupuk Darupurnomo | Rameadi | Rudi Mantovani | Rita Widagdo | Redy Rahadian | Ronald Manullang | S. Teddy D | Samsul Arifin | Sigit Santoso | Suhartono H. | Septian Harriyoga | Sunaryo | Suklu (I Wayan Sujana) | Teguh S. Priyono | Theresia Agustina | Tita Rubi | Teguh Agus Priyanto | Teguh Ostenrik | Tommy Tanggara | Uji Handoko & Gintani NA Swastika | Ugo Untoro | Wahyu Santoso | Wilman Syahnur | Wiyoga Muhardanto & Budi Adi Nugroho | Yani Halim | Yudi Sulistya | Yuli Prayitno | Yunizar | Yusra Martunus | Yani Maryani Sastranegara | Yori Antar

***

Pengantar Kuratorial

Pameran Besar Patung Kontemporer Indonesia 
“CONTEMPORARY sculpture knows no boundaries. There is no material or technology, from dirt to video, that sculpture won't pick up and exploit for its own ends, and there are no formal parameters like, say, the flatness of painting to constrain it.” 

Sulit dipungkiri bahwa kategori patung merupakan kategori seni yang paling cair dan luas batasannya. Karya apapun yang tidak masuk dalam kategori dua dimensi atau new media dapat dimasukkan sebagai karya patung. Bahkan jika memasukkan pengertian patung dalam Sculpture in the Expanded Field dari Rosalind Krauss maka karya-karya yang menggunakan monitor TV—bisa dianggap sebagai awal karya-karya media baru—pun bisa diklaim sebagai karya patung, 
“On the last ten years rather surprising things have come to be called sculpture: narrow corridors with TV monitors at the ends; large photographs documenting country hikes; mirrors placed at strange angles in ordinary rooms; temporary lines cut into the floor of the desert. Nothing, it would seem, could possibly give to such a motley of effort the right to lay claim to whatever one might mean by the category of sculpture. Unless, that is, the category can be made to become almost infinitely malleable.” 
Cairnya batasan seni patung menjadi salah satu keistimewaan patung kontemporer. Tetapi hal tersebut juga bisa dilihat sebagai kelemahan patung kontemporer, sebab batasan yang sangat luas dan beragam telah menyebabkan kategori seni patung hampir runtuh, 
“Recently, Johanna Burton has pointed out that this expanded, and nearly collapsed, category of sculpture, which in the intervening years since Krauss wrote her text has continued to absorb any number of different practices,...“ 
Namun luas dan cairnya batasan seni patung tak harus dilihat sebagai runtuhnya atau krisis batasan seni patung, melainkan sebagai realitanya saat ini, sebagaimana selanjutnya diutarakan oleh Anne Ellegood: ”…may no longer suggest a crisis for the medium, but simply its current ‘state of being.” Atau situasinya seperti yang dikatakan oleh Manfred Schneckenburger: “In fact, nothing less but the crisis of identity itself had become the true productive principle behind the extention of the term sculpture.” 

Bagaimana dengan seni patung kontemporer Indonesia? Tak dapat dipungkiri bahwa akademi/ pendidikan tinggi seni rupa di Indonesia sejak paruh kedua abad dua puluh telah mengajarkan prinsip-prinsip seni rupa modern Barat. Hal itu sedikit banyak memberikan pengaruh pada patung kontemporer Indonesia. Namun demikian kecenderungan seni rupa kontemporer yang sangat dipengaruhi isu-isu global tentu memberikan pengaruh besar pada perkembangan patung kontemporer Indonesia. Pluralisme, multikulturalisme dan poskolonialisme telah mendorong dilihatnya kembali potensi dan inspirasi dari sumber-sumber lokal, baik warisan tradisi maupun kondisi sosial-politik lokal. 
Mengacu pada teks klasik Kantian-Hegelian, Heinrich Wolfflin, sejarawan seni asal Swiss, sudah sejak akhir abad sembilan-belas menyebutkan adanya dua “root of style” yaitu, 
“These are the visual or internal root, which is the link with previous art, and the social or external root, which is the link with the contemporaneous surrounding culture.” 
Sudah tentu yang dimaksud dengan visual root adalah kecenderungan formalis yang menjadi dasar konstruk sejarah seni rupa modern. Dengan kata lain dalam seni rupa modern yang memainkan peranan adalah visual root. Sebaliknya, dalam seni rupa kontemporer yang lebih dominan adalah social atau external root. Hal itu dijelaskan oleh Thomas McEvilley dalam bukunya Sculpture in the Age of Doubt, 
“The many avenues shunned by Modernist art history as growing from the nonvisual external root are now being explored in art history text and classrooms. These include the classic social triad (race, class, and gender); political contents encompassing repressed ideological subtext; difference in general, especially ethnic differences and community identities; the mystery of representation and it secret agenda; and so on. Thus the age of doubt has opened itself precisely to those experiences the previous age of certainty had condemned and avoided.” 

Berbeda dengan seni rupa modern Barat yang menganut acuan tunggal, maka seni rupa kontemporer global bisa dikatakan memiliki banyak acuan. Maka, dengan sendirinya cukup sulit menetapkan batasan seni patung kontemporer Indonesia. Sesungguhnya dengan semakin beragamnya kecenderungan patung kontemporer, maka dibutuhkan pembacaan, pencatatan dan pemetaan terhadap dunia patung kontemporer Indonesia. Tanpa itu, patung kontemporer Indonesia akan menjadi wilayah yang sulit dikenali dan difahami. Akibatnya, tidak tumbuh apresiasi yang baik terhadap karya-karya patung kontemporer Indonesia. Padahal apresiasi yang baik merupakan salah satu momentum bagi perkembangan seni. 
Dalam medan seni rupa Indonesia jarang sekali diadakan pameran besar seni patung. Triennali seni patung terakhir diadakan pada tahun 1998. Tetapi tanpa expose yang khusus, kita tahu bahwa dalam dekade terakhir terjadi perkembangan seni patung kontemporer yang cukup luar biasa. Hal tersebut dapat dilihat pada pameran-pameran seni rupa kontemporer, baik pameran tunggal, bersama maupun pada bienal-bienal seni rupa di Indonesia. Namun demikian pameran tetap perlu diadakan secara rutin agar dapat dilihat keragaman dan perkembangan mutakhir patung kontemporer Indonesia. Cairnya batasan patung kontemporer merupakan peluang bagi penjelajahan yang hampir tanpa batas, namun tanpa pembacaan dan pemetaan, maka apa yang telah dihasilkan oleh perupa akan tinggal sebagai wilayah yang asing dan tak dikenali keistimewaannya. 
Dilatari pemikiran tersebut, Galeri Nasional bersama para kurator pameran ini menggagas Pameran Besar Patung Kontemporer Indonesia. Kendati pameran ini tak bertujuan menetapkan batas-batas seni patung kontemporer Indonesia, namun diharapkan karya-karya yang tampil dapat menunjukkan beberapa kecenderungan dominan yang mewakili perkembangan seni patung kontemporer Indonesia. Sesuai dengan cairnya seni patung kontemporer, maka seniman yang diundang tak hanya pematung, tetapi juga para perupa dengan medium lain yang juga diketahui menghasilkan karya-karya patung. 
“…; artist are multi-taskers who work across categories and boundaries, and often do not have studios. As the art critics and philosopher Arthur Danto wrote in After the End of Art (1996): ‘ours is a moment, at least (and perhaps only) in art, of deep pluralism and total tolerance. Nothing is ruled out.” 

Sesuai dengan upaya memetakan patung kontemporer Indonesia, maka tidak ditetapkan tema khusus pada pameran besar ini. Para perupa yang diundang dibebaskan untuk berkarya dengan tema dan material apapun sesuai keinginannya. Namun demikian diharapkan para perupa dapat menampilkan karya yang menunjukkan pencapaian terbaik sesuai dengan identitas dan karakter karya patungnya selama ini.

 

Sumber : https://www.facebook.com/events/198799863502699/


Logo foot 0e2275ffe57cd7876aa896531959717ee2585cfc7989b3924f06aa8636f47f38

Supported by:

GALERI NASIONAL INDONESIA

Jl. Medan Merdeka Timur no.14
Jakarta 10110
P: 021-348 33 954
F: 021-381 3021
Fb cda1200db9deaa1dd028f54c818d6f86dd15120a53a7fedeedcbd4fb5f885c4b Twitt 29cef47e6488eb7995d855a47ef74bffbed4732acbbd77d5c8d970ca82214ffc Gplus f5bd9896e626696f9ac7f2c8c9434d4461dbc2fcba73c58dbd41b0cbeec4441a
Header color 8ae5ee5e6e5e961c2bebefd751219e5ad6b474423f1278bc6fa41a658a67cddd